GasparNews.com, Belitung – Mess Kalibaru dan Mess Kemayoran selalu penuh, pasien rujukan masih kesulitan mencari penginapan ketika harus dirujuk ke Jakarta.
Kendala lama masih belum ada solusinya, kondisi Mess Kemayoran dan Mess Kalibaru selalu penuh.
Pada Minggu 16 Februari 2025, pasien rujukan dari RSUD Marsidi Judono Tanjungpandan, Kabupaten Belitung atas nama Reni, kebingungan mencari tempat penginapan selama proses rujukan di RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat.
Adi selaku pengurus Mess baik di Kemayoran maupun Kalibaru mengatakan, Mess sering penuh dan tidak ada kamar kosong.
“Maaf bang kamar lagi full booking,” ujarnya ketika dihubungi awak media melalui kontak Whatsapp.
“Iya bang gak ada udah ada yang mesan udah full booking. Belum tau yang pesan sampai kapan bang maaf ya,” kata dia.
Ketika ditanya kapan ada kamar kosong untuk pasien rujukan. “Penuh buat berobat juga bang Disni, Maaf ya bang kalo sudah kosong baru dikabarin nanti,” tulis pesan singkatnya.
Senada dengan pengurus Mess Kemayoran ketika dihubungi melalui pesan Whatsapp juga menjawab singkat dan padat.
“ada apa ya,” ujar pengurus itu kepada awak media lewat pesan WA.
Ketika ditanya apakah ada kamar kosong kemudian dijawab “kamar la full” artinya kamar sudah penuh.
Dan tanpa penjelasan lain singkat menutup pembicaraan melalui WA ketika ditanya terkait kamar untuk pasien rujukan di Jakarta.
Teguh Trinanda Dampingi Pasien Rujukan
Teguh Trinanda yang mendampingi pasien rujukan dan menghubungi pengurus mess Kalibaru maupun Kemayoran merasa sampai saat ini belum ada solusi terkait sering penuhnya mesa pemda Belitung untuk pasien rujukan. Walaupun Mess Kalibaru sudah direnovasi total dan adanya penambahan kamar.
Teguh menjelaskan, kondisi ini masih sama, sejak tahun 2017 sudah aktif mendampingi pasien rujukan di Jakarta melalui Yayasan Melayu Rantau Nusantara (MERANTAU FOUNDATION).
Hingga kini, Minggu (16/2//2025) terhitung sudah delapan tahun (8) berlalu, bahkan nama Yayasan sudah berganti menjadi Yayasan Peduli Masyarakat Belitung (YPMB) kondisi Mess Pemda Belitung masih sama saja, selalu penuh, bahkan sangat sulit untuk pasien rujukan mendapatkan penginapan.
Meskipun sudah ada program SEHATI yang katanya program unggulan dan berprestasi, nampaknya belum ada solusi yang maksimal terkait permasalahan pasien rujukan.
Terlebih program SEHATI memang hanya memfokuskan bantuan kepada pasien PBI. Sementara itu pasien rujukan non PBI dibiarkan sendiri ketika akan dirujuk ke Jakarta.
“Semoga dengan adanya pergantian pemimpin di Kabupaten Belitung, permasalahan dasar dan sangat penting bagi masyarakat bisa ada perbaikan yang maksimal. Pasien rujukan tidak lagi kesulitan bahkan ketakutan ketika harus dirujuk ke Jakarta. Ada harapan besar terjadinya perbaikan dalam pelayanan dasar untuk Masyarakat, khususnya masalah kesehatan di Kabupaten Belitung. Apalagi Wakil Bupati Belitung Syamsir, yang dikenal sering membantu ketika pasien membutuhkan bantuan,” kata Teguh sampaikan harapannya. (Tim)







