Gasparnews.com, Belitung – Tingkat partisipasi pemilih berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Belitung tertinggi ke dua se Provinsi Bangka Belitung (Babel) dengan jumlah partisipan yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) mencapai 73,39 persen.
Hal ini disampaikan Ketua KPU Belitung, Amir Husin saat membuka Rapat Pleno terbuka Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pilkada 2024.
Rapat Pleno terbuka ini berlangsung di Ballroom Grand Hatika Hotel, Tanjungpandan, Kabuoaten Belitung, Rabu (4/12)
Ketua KPU Belitung, menjelaskan total partisipan yang menyalurkan hak suaranya sebanyak 101.478 dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT).
“Jika digabung dengan Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) dan Daftar Pemilih Khusus (DPK), jumlah partisipan mencapai 102.181 pemilih,” sebutnya.
Amir menjelaskan, secara keseluruhan, tingkat partisipasi pemilih di Kabupaten Belitung menjadi yang tertinggi kedua posisi yang pertama dipegang oleh Kabupaten Belitung Timur di Provinsi Babel.
Ketua KPU Belitung mengakui berdasarkan data tingkat partisipasi pemilih mengalami penurunan dibandingkan Pilkada lima tahun lalu yaitu sekitar 2,5. persen.
Padahal, kata dia pihaknya telah berupaya maksimal dalam meningkatkan partisipasi pemilih melalui sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat kaitan Pilkada serantak 2024.
“Tentunya banyak faktor yag menyebabkan terjadinya penurunan partisipasi pemilih, diantaranya karena baru saja berlangsung pileg dan pilpres. Ini menjadi PR kita dalam mensikapi pemilu kedepan,” kata Amir.
Diketahui, partisipasi pemilih di Kabupaten Belitung Timur mencapai 74,6 persen. Tingkat partisipasi ini merupakan yang tertinggi se Provinsi Babel.
Masyarakat Jenuh Janji Manis Politik
Sementara, Andi salah satu warga Tanjungpandan mengatakan sangat disayangkan masih banyak pemilih yang tidak menyalurkan hak suaranya pada 27 November 2024 lalu.
Menurutnya, faktor utama penyebab rendahnya partisipasi pemilih, disebabkan kekecewaan masyarakat terhadap program-program pemerintah yang tidak menyentuh langsung ke rakyat.
Tingkatkan kesadaran berpolitik dalam pemilu kedepan juga mesti digiatkan terutama untuk pemilih pemula.
Begitu juga kepuasan masyarakat terhadap kinerja lembaga eksekutif maupun legislatif yang tidak sesuai dengan janji-janji manis politiknya pada saat kampanye. Hal ini juga turut menjadi penyebab semakin banyaknya golput.
“Tentunya partisipasi pemilih ini menunjukkan rendahnya legitimasi (keabsahan) politik para pemimpin yang terpilih. Sehingga masyarakat terlihat seperti kehilangan harapan terhadap calon pemimpinnya yang mungkin dianggap masih banyak yang mementingkan dirinya dan kelompoknya. Sementara kaitan kesejahteran itu mungkin masih banyak masyarakat yang menganggap sebagai simbol dalam pencitraan politik saja,” ungkapnya.







