GasparNews.com, Belitung – Peternak ayam mandiri di Kabupaten Belitung mengaku semakin tertekan akibat tingginya harga pakan serta sulitnya memperoleh bibit ayam atau Day Old Chick (DOC).
Keluhan tersebut disampaikan Aliansi Peternak Ayam Mandiri Kabupaten Belitung bersama DPW Pinsar Indonesia Bangka Belitung.
Mereka menilai kondisi tersebut membuat biaya produksi peternak mandiri semakin tinggi dan berpotensi mengancam keberlangsungan usaha peternakan lokal.
Ketua Aliansi Peternak Ayam Mandiri Kabupaten Belitung, Yahya, mengatakan kenaikan harga pakan telah berdampak langsung terhadap Harga Pokok Produksi (HPP) ayam di tingkat peternak mandiri.
Menurutnya, harga bibit ayam saat ini berada di kisaran Rp9.200 hingga belasan ribu rupiah per ekor. Sementara itu, mereka berharap harga bibit kembali normal seperti biasanya, yakni sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000 per ekor.
Persoalan tersebut semakin berat karena peternak mandiri juga menghadapi kesulitan memperoleh DOC sesuai kebutuhan.
“Peternak mandiri harus mengeluarkan biaya produksi yang semakin tinggi, sementara untuk mendapatkan bibit saja kami masih mengalami kesulitan dan harus menunggu alokasi,” ujar Yahya, Rabu (19/8/2026).
Peternak Mandiri Belitung Soroti Kemitraan PT SMS
Di sisi lain, Aliansi menyoroti adanya perbedaan kondisi pasokan DOC antara peternak mandiri dengan peternakan yang menjalankan pola kemitraan.
Aliansi menyebut pasokan DOC ke kandang-kandang kemitraan PT SMS, yang disebut sebagai anak perusahaan Charoen Pokphand Indonesia, dinilai lebih terjamin dibandingkan yang diterima peternak mandiri.
Kondisi tersebut, menurut Aliansi, berpotensi menimbulkan ketimpangan dalam persaingan usaha apabila distribusi DOC tidak berlangsung secara proporsional.
“Selain persoalan pasokan bibit, peternak mandiri juga menyoroti kondisi harga jual ayam ketika memasuki masa panen,” ungkapnya.
Mereka menduga harga ayam dari peternakan kemitraan pada waktu tertentu dapat berada di bawah HPP yang harus ditanggung peternak mandiri.
“Jika kondisi tersebut terjadi secara berulang, peternak mandiri khawatir akan semakin sulit bertahan menghadapi persaingan pasar,” keluhnya.
Aliansi menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian pemerintah dan lembaga berwenang, terutama terkait tata kelola distribusi DOC, harga pakan, serta mekanisme pemasaran ayam di Kabupaten Belitung.
“Yang kami harapkan adalah adanya pengawasan dan perlakuan yang adil bagi seluruh pelaku usaha. Peternak mandiri juga harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh bibit dan menjalankan usahanya,” kata Yahya.
Desak Pemerintah Turun Tangan
Menurut Aliansi, jika ketimpangan pasokan dan persaingan harga terus berlangsung tanpa pengawasan yang memadai, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menyebabkan semakin banyak peternak ayam mandiri menghentikan usahanya.
Karena itu, Aliansi Peternak Ayam Mandiri Belitung bersama Pinsar Indonesia Bangka Belitung meminta pemerintah daerah, instansi terkait, serta lembaga pengawas persaingan usaha untuk turun tangan dan memastikan tata niaga perunggasan di Belitung berjalan secara sehat dan adil.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait untuk memperoleh informasi dan klarifikasi secara berimbang.***







