GasparNews.com, Belitung – PT PLN (Persero) terus mendorong kemandirian energi nasional dan pengurangan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) impor melalui penerapan ekosistem energi terbarukan di pulau-pulau terpencil.
Salah satu terobosan terbaru dihadirkan di Pulau Rengit, Bangka Belitung, yang kini resmi mengoperasikan ekosistem Green Energy Technopark berbasis 100 persen energi.
Adapun peresmian Green Energy Ecosystem Technopark (GEET) ini berlangsung di Pulau Rengit, Desa Pegantungan, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Sabtu (22/8/2026).
Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan (TNK) PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, menjelaskan bahwa proyek percontohan ini berhasil mengubah sistem kelistrikan warga setempat yang sebelumnya bergantung penuh pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).
”Awalnya di sini dioperasikan full 100 persen dengan diesel 100 kW dua unit. Namun karena biaya operasional tinggi, listrik hanya menyala 12 jam sehari. Sekarang dengan energi hijau, pasokan listrik melayani 24 jam penuh untuk sekitar 44 rumah tangga,” ujar Edwin.
Kehadiran listrik 24 jam ini turut mendorong perekonomian lokal, khususnya bagi nelayan yang kini dapat memanfaatkan fasilitas cold storage untuk menjaga kesegaran tangkapan ikan tanpa khawatir mati listrik di siang hari. Konsumsi listrik harian warga pun meningkat dari 70 kWh menjadi 172 kWh per hari.
Integrasi Berbagai Teknologi Energi Terbarukan
Proyek bernilai investasi sekitar Rp14 miliar ini menggabungkan berbagai teknologi canggih secara terintegrasi:
PLTS Agrivoltaik (80 kWp): Memanfaatkan lahan sekitar 800–1.000 m² dengan posisi panel terangkat, sehingga bagian bawahnya tetap dapat ditanami tanaman pangan berkolaborasi dengan Universitas Bangka Belitung.
Baterai Sistem (BESS 2×100 kWh): Menampung kelebihan energi matahari di siang hari untuk disalurkan pada malam hari.
Fuel Cell Hidrogen: Mengubah hidrogen menjadi listrik (40 liter air menghasilkan 4 kg hidrogen per hari) sebagai penopang daya tambahan.
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB): Menggunakan kombinasi turbin angin horizontal (2 unit x 1 kW) dan vertikal (3 unit x 0,6 kW) yang mampu berputar pada kecepatan angin rendah mulai 2,5 m/s.
Lanjutnya, Energy Management System (EMS): Seluruh operasional terkomputerisasi dan terdigitalisasi secara otomatis.
Pangkas Biaya Pokok Produksi dan Subsidi Negara
Peralihan ke energi terbarukan ini berhasil menekan Biaya Pokok Pembangkitan (BPP) listrik secara signifikan. Saat menggunakan diesel, biaya produksi mencapai Rp16.700 per kWh.
“Dengan sistem baru ini, biaya dapat ditekan menjadi Rp12.300 per kWh, memberikan penghematan sebesar Rp4.400 per kWh yang berdampak langsung pada pengurangan beban subsidi negara,” tambahnya.
PLN akan memantau performa sistem ini selama satu tahun sebagai model prototipe.
Harapannya, konsep ekosistem energi hijau ini dapat direplikasi di berbagai pulau kecil lainnya di Indonesia yang saat ini masih bergantung pada minyak diesel.***







