Tradisi Cheng Beng di Belitung, Warga Tionghoa Antusias ke Makam Leluhur

banner 468x60

Gasparnews.com, Belitung – Warga keturunan Tionghoa berkumpul melakukan tradisi sembahyang kubur atau Cheng Beng di Desa Dukong, Kecamatan Tanjungpandan, Minggu (9/4/2023).

Adapun tradisi sembahyang kubur atau Cheng Beng tersebut merupakan ritual suci bagi warga Tionghoa untuk ziarah ke makam orang tua dan leluhur mereka. Tradisi ini merupakan perwujudan sikap masyarakat Tionghoa yang sangat mencintai dan menghormati leluhurnya.

Bacaan Lainnya
kalender2024

Kegiatan ini dilakukan sejak pagi hari hingga jelang siang, dengan melakukan sembahyang dan meletakan sesajian, berupa aneka buah-buahan, ayam, babi, arak, aneka kue dan makanan vegetarian serta uang kertas atau kimcin yang di taruh di makam.

Salah satu peziarah, Hendri menuturkan momentum Cheng Beng ini biasa dimanfaatkan warga Tionghoa keturunan untuk berkumpul bersama keluarga, khususnya mereka yang dari perantauan biasanya akan pulang kampung.

“Setiap tahun sekali biasanya warga keturunan Tionghoa melakukan sembahyang kubur atau Cheng Beng dan momen ini juga dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, pada khusunya di Belitung ini,” ujarnya.

Puncak Cheng Beng tahun ini jatuh pada tanggal 5 April. Adapun warga keturunan Tionghoa di Belitung ini melakukan Chen Beng pada hari Minggu 9 April 2023.

Warga Tionghoa berkumpul di Aula Yayasan Sosial Budhi Bhakti Tanjungpandan

Penghormatan Kepada Orang Tua dan Leluhur

Selanjutnya, setelah melakukan sembahyang kabur, para peziarah berkumpul di Aula Yayasan Sosial Budi Bhakti yang terletak di area pemakaman Desa Dukong ini.

“Disini kita berkumpul bersama untuk melakukan sembahyang memberi penghormatan kepada orang tua dan leluhur yang telah mendahului kita, semoga tradisi ini dapat kita wariskan kepada anak cucu dimasa depan,” imbuh Hendri.

Dari pantauan awak media Gasparnews, digelar juga rapat umum anggota Yayasan Sosial Budhi Bhakti Tanjungpandan, Kabupaten Belitung. Pada pertemuan ini pengurus yayasan banyak menerima masukan dan saran dari etnis Thionghoa agar perkuburan ini dapat diurus dengan baik tata kelolanya, seperti kebersihan dan kerapiannya, sehingga bisa dijadikan salah satu tujuan wisata. (Ep/My).

BANNER SEBELUM KONTEN - GN 650x30

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *